Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Intip Cara Terbaru Whatsap Tangkal Penyebaran Hoaks

 


Pesatnya kemajuan teknologi membuat arus data begitu kencang tanpa terdapat Batasan ruang serta waktu. Perihal itu pastinya jadi ladang sedap penyebaran data bohong ataupun hoaks di tengah publik.


Tidak hanya alat sosial, alat yang banyak dipakai buat mengedarkan hoaks merupakan layanan pesan praktis, khususnya WhatsApp dengan jumlah pemakainya yang sedemikian besar. Pada Februari 2020 saja, terdaftar jumlah pemakai layanan itu menggapai 2 miliyar di seluruh dunia.


Di Indonesia sendiri, bersumber pada survey Hootsuite yang dicoba pada Januari 2019 terdaftar 124 juta orang di Indonesia memakai WhatsApp. Jumlah itu menggapai 83% dari keseluruhan pemakai internet.


Pastinya, bukan perihal yang gampang menekan penyebaran hoaks lewat WhatsApp. Jumlah konsumen yang sedemikian besar dan karakternya yang tertutup membuat usaha itu penuh tantangan.


Meski begitu, bukan berarti usaha yang dicoba buat menekan penyebaran hoaks lewat WhatsApp tidak ada. Layanan catatan instan kepunyaan Facebook Inc. itu sudah melaksanakan beberapa usaha, terlebih di tengah wabah Covid- 19 yang membuat penyebaran hoaks kian padat.


Ketua Komunikasi WhatsApp Asia Pacific Sravanthi Dev berkata, grupnya sudah memblokir 2 juta account untuk tangkal hoaks. Akun- akun yang telah diblokir WhatsApp ini tidak hendak dapat dipakai kembali.


" Penghentian account itu bersifat permanen, maksudnya mereka tidak dapat memakai account yang serupa. Mereka wajib bikin account baru buat kembali memakai WhatsApp," ucap Sravanthi beberapa waktu lalu.


Penangkalan penyebaran hoaks pula dicoba melalui machine learning yang sanggup mengenali akun- akun penyebar pesan dengan cara massal. Fitur berplatform intelek ciptaan itu hendak menyambut dan mengerjakan informasi account yang diprediksi mengedarkan hoaks bersumber pada informasi penghentian dari pemakai lain serta beberapa pertimbangan.


Lebih lanjut, Sravanthi Dev mengatakan grupnya sudah melaksanakan beberapa adaptasi buat membatasi penyebaran hoaks. Salah satunya merupakan menghalangi pesan yang kerap diteruskan( forwarded message) oleh pemakai pada awal tahun ini. Catatan itu cuma bisa diteruskan pada satu orang ataupun tim pada satu waktu.


Ia mengklaim adaptasi itu sukses menekan jumlah catatan yang sudah berulang kali diteruskan sampai 70%. Ada pula, kebijaksanaan tadinya yang menghalangi jumlah penerusan catatan cuma ke 5 kontak dalam satu durasi cuma sukses menekan sampai 25% saja.


Setelah itu WhatsApp pula memberitahukan identitas diteruskan atau forwarded( panah tunggal) serta kerap diteruskan atau highly forwarded( panah dobel), dengan tujuan membuat konsumen berasumsi kembali saat sebelum melanjutkan lagi pesan yang mereka dapat.


Terakhir WhatsApp pula memodernkan pengaturan pribadi tim supaya konsumen bisa tingkatkan keamanan pribadi mereka.


Terkait, Ketua Jenderal Aplikasi Informatika( Aptika) Departemen Komunikasi serta Informatika( Kominfo) Semuel Abrijani Pangerapan berkata usaha penguasa melawan penyebaran hoaks tidaklah wujud penyekatan kelonggaran berekspresi serta berpendapat publik.“[Di tengah] suasana wabah ini kita butuh meluruskan informasi- informasi yang salah supaya tidak menggelisahkan warga”.


Semuel menerangkan dalam menanggulangi konten yang diprediksi hoaks grupnya senantiasa melaksanakan pengetesan kebenaran, konfirmasi data yang masuk ke sebagian pihak. Bila data itu telah ditentukan tidak betul, hendak diserahkan stempel hoaks buat setelah itu diterbitkan lewat web resmi Kominfo.


Bersumber pada informasi dalam Kominfo, semenjak 23 Januari- 18 Oktober 2020 ada 2. 200 konten hoaks yang tersebar di media sosial. Sebesar 1. 759 antara lain telah diturunkan ataupun di- take down. Sebagian besar merupakan hoaks seputar wabah Covid- 19 yang membingungkan serta pastinya menggelisahkan publik.


CHATBOT WHATSAPP


Usaha menekan penyebaran hoax lewat WhatsApp pula dicoba dengan metode memperkenalkan layanan percakapan virtual dengan intelek ciptaan ataupun chatbot. Layanan itu hendak menolong pemakai WhatsApp membenarkan bukti data yang mereka dapat.


Chatbot yang diberi julukan Kalimasada itu ialah buah kerjasama WhatsApp dengan Masyarakat Anti Fitnah Indonesia( Mafindo).


Lewat Kalimasada, pemakai WhatsApp bisa dengan gampang membenarkan keberanan data yang didapat dengan metode mengirimkan pesan ke nomor+6285921600500. Tidak hanya itu, konsumen pula dapat menekuni bagaimana metode mencegah diri dari hoaks melalui layanan itu.


Bagi Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho, beberapa besar konsumen WhatsApp di Tanah Air tidak memakai internet buat kebutuhan yang lain, alhasil mereka tidak dapat memeriksa data yang diterimanya. Sementara itu, mereka aktif memproduksi bermacam data serta menyebarkannya lewat program itu.


" Dengan chatbot ini, kita berambisi bisa membagikan metode berdaya guna serta gampang pada jutaan konsumen WhatsApp di Indonesia buat memverifikasi data yang mereka dapat. Dengan sedemikian itu, seluruh orang dapat berfungsi dalam menekan disinformasi," tuturnya.


Septiaji meningkatkan besarnya jumlah konsumen layanan catatan praktis serta alat sosial di Indonesia tidak diiringi oleh kenaikan tingkatan literasi digital. Pada umumnya, warga Indonesia cuma memandang kepala karangan informasi yang dramatis dari pesan yang mereka dapat tanpa membaca isinya serta langsung meneruskannya ke grup obrolan.


Dengan cara terpisah, Ketua Studi Katadata Insight Center Mulya Amri berkata indikator literasi digital warga Indonesia tahun ini terkategori sedang walaupun pemakaian internet serta sosial alat hadapi kenaikan. Bersumber pada studi yang dicoba oleh Katadata Insight Center serta Kominfo literasi digital warga Indonesia berada di poin 3, 47.


“ Tingkatan literasi[digital] nasional terkategori lagi, sementara itu pemakaian alat sosial tercantum besar. Bersumber pada survey kepada 1. 670 responden di 34 provinsi, 99, 9% mempunyai handphone serta 99, 7% mempunyai handphone yang terkoneksi dengan internet,” tuturnya akhir minggu kemudian.


Dari rasio 1- 5 angka di bawah 2 masuk jenis kurang baik, angka 3- 4 sedang, serta angka lebih dari 4 terkategori bagus. Indikator literasi digital yang besar berhubungan dengan umur belia, pria, serta tingginya tingkatan pembelajaran warga. 

Berlangganan via Email